- Beranda
- Profil
- Produk
- Informasi dan Berita
- Hubungi Kami
| Alamat Kantor | : | Jalan Pahlawan Kemarung no 369 |
| Baturaja, Sumatera Selatan | ||
| Telepon | : | (0735) 323332/322066 |
| Faksimile | : | (0735) 321010 |
Jumat, 16 Maret 2012
BI Syukuri Harmonisasi Aturan dengan Bapepam-LK Berjalan Lancar
Jakarta–Bank Indonesia (BI) menyatakan harmonisasi kebijakan dengan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) telah terjalin untuk menjaga tingkat kehati-hatian dalam pembiayaan di sektor otomatif dan properti.
“Makanya dikeluarkan sama, Bapepam juga hari ini mengeluarkan aturan yang sama untuk perusahaan pembiayaan dengan persentasi yang sedikit berbeda,” ucap Gubernur BI Darmin Nasution, kepada wartawan di Kompleks Gedung BI, Jakarta, Jumat, 16 Maret 2012.
Terkait hal tersebut, bank sentral mengeluarkan Surat Edaran Ekstern Nomor 14/10/DPNP tanggal 15 Maret 2012 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).
Untuk LTV KPR ditetapkan maksimal sebesar 70% untuk kriteria bangunan di atas 70 m2, dengan demikian penetapan uang muka atau down payment (DP) untuk KPR minimal sebesar 30% dari harga jual.
Sementara Untuk pengaturan uang muka kredit atau DP pada KKB mencakup beberapa hal sebagai berikut:
- DP paling kurang 25% untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua.
- DP paling kurang 30% untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat untuk keperluan non produktif.
- DP paling kurang 20% untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk keperluan produktif.
“Kalau tidak salah DP-nya 5% lebih rendah di sana. Buat kita di perbankan sebenarnya selama ini relatif berjalan, dengan masuknya perusahaan pembiayaan ini menjadi jauh lebih berarti,” tutup Darmin. (*)
Sumber : Infobank
Kenaikan Harga BBM dan Daya Tahan Kredit
Eko B. Supriyanto
Pemerintah hampir pasti akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Hanya saja besarannya masih belum pasti. Namun, perkiraan pasar, kenaikan harga BBM akan berkisar 30% sampai dengan 40%. Untuk premium, yang biasanya Rp4.500 per liter akan menjadi Rp6.000 sampai dengan Rp6.500 per liter. Kenaikan harga BBM ini terkait dengan daya tahan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Kenaikan harga BBM bersubsidi sepertinya akan dilakukan pada 1 April 2012. Menurut Agus D.W. Martowardojo, Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia (RI), pemerintah akan segera mengajukan pembahasan APBN perubahan (APBN-P) pada awal Maret dan 30 hari sejak pengajuan kenaikan harga sudah bisa dilakukan.
Menurut Agus Martowardojo, kenaikan harga minyak bersubsidi ini dilakukan untuk mengendalikan lonjakan konsumsi BBM dan mengurangi subsidi yang terus membengkak. Namun, Menkeu sendiri tidak akan menyebut angka kenaikannya karena akan menimbulkan spekulasi.
Hitung-hitungan penghematan subsidi BBM kasarnya jika kenaikan Rp1.000 per liter, akan menghemat sekitar Rp28 triliun dan kenaikan Rp1.500 sebesar Rp54 triliun. Jadi, jika tidak dinaikkan harga BBM bersubsidi akan meledakkan APBN.
Tahun lalu saja angka subsidi BBM mencapai Rp165 triliun. Jumlah ini melonjak dari APBN-P sebesar Rp129,7 triliun. Pada 2012 angka subsidi diperkirakan Rp123 triliun. Namun, jika melihat konsumsi BBM dan harga minyak dunia, target itu bisa melonjak tinggi. Untuk itu, pemerintah akan menaikkan harga BBM bersubsidi ini.
Jika hendak membandingkan angka subsidi minyak tahun ini, besarnya subsidi itu 2,2 kali anggaran infrastruktur perhubungan yang besarnya Rp55,6 triliun dan 0,5 kali anggaran pendidikan murah dan terjangkau Rp290 triliun.
Banyak pengamat tampak setuju atas kenaikan harga BBM ini, kecuali jajaran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang beroposisi dengan pemerintah.
Suka tidak suka, kenaikan harga BBM ini harus dilakukan. Selain mudah dan simpel karena tinggal membuat kebijakan ketimbang membuat kebijakan alih energi yang mendadak dan pengenaan harga BBM bersubsidi yang berbeda—yang akan menimbulkan distorsi harga.
Kendati demikian, ada dampak yang paling serius. Kelompok kaya masih akan menikmati subsidi bersama dengan kelompok miskin. Karena itu, pemerintah perlu membuat kebijakan-kebijakan dan melakukan pembangunan infrastruktur agar masyarakat yang terkena dampaknya dapat tertolong. Perlu ada kebijakan buat si miskin.
Kenaikan harga BBM selalu berdampak banyak. Ongkos angkutan umum akan naik. Bahkan, belum ada pengumuman, asosiasi angkutan umum memperkirakan akan ada kenaikan ongkos angkutan 35% dan ini akan menyulut harga kebutuhan pokok dan akan berdampak pada angka inflasi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kenaikan harga BBM juga selalu berdampak pada kolektibilitas kredit. Kelompok yang berpenghasilan tetap akan terkena imbas kenaikan harga kebutuhan dan sudah pasti akan memengaruhi cicilan atau angsuran ke bank atau ke multifinance. Harga polis asuransi juga akan naik karena biaya-biaya rumah sakit dan sekolah juga meningkat.
Jika permintaan turun di kelompok masyarakat berpenghasilan tetap, itu karena tergerus inflasi yang bisa mencapai kenaikan 1% sampai dengan 2% akibat kenaikan harga BBM bersubsidi ini. Inflasi diperkirakan akan terkerek pada kisaran 5% sampai dengan 7% sehingga suku bunga juga sulit diharapkan untuk turun lebih rendah lagi.
Pada akhirnya, jika ada tekanan terhadap harga-harga, akan berpengaruh terhadap sektor riil, yang sudah pasti akan terjadi penurunan permintaan. Jika terjadi penurunan permintaan, akan berpengaruh terhadap kualitas kredit bank. Risiko kredit macet akan makin besar dan ini merupakan ancaman terhadap penurunan suku bunga kredit karena risiko yang meningkat.
Pengalaman sebelumnya, ketika harga minyak naik, akan berpengaruh pada sektor konsumsi, terutama kredit-kredit yang berisiko tinggi. Juga, bakal menurunkan permintaan akan kebutuhan otomotif dan ini pasti bisa merembet ke sektor multifinance. Risiko multifinance akan membesar akibat kenaikan harga BBM dan sudah tentu akan menaikkan harga jual kendaraan bermotor akibat ada kenaikan harga suku cadang.
Karena itu, kalangan perbankan dan multifinance perlu memerhatikan bahaya laten dari kenaikan harga BBM ini. Sepertinya tidak akan terjadi apa-apa karena setiap hari kita disuguhi sinetron mengenai pengusutan kasus korupsi yang dilakukan Nazaruddin dan kawan-kawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Selama ini pemerintah sangat senang memerhatikan kondisi sosial politik. Padahal, sebenarnya kenaikan harga BBM ini bisa berdampak buruk pada sektor riil dan sektor perbankan. Namun, sepanjang pemerintah bisa mengerjakan PR-nya, yaitu mengurusi penduduk miskin, perbankan juga masih akan bisa tumbuh seperti perkiraan, yaitu 22% sampai dengan 24%.
Namun, jangan pernah berharap akan terjadi penurunan suku bunga kredit yang lebih tajam. Semua itu karena efek berantai kenaikan harga BBM yang akan menurunkan kualitas kredit sektor perbankan dan multifinance. Satu-satunya langkah yang wajib dilakukan perbankan dan multifinance adalah bersiap-siap. Tetap menjaga kualitas kredit dan senantiasa memerhatikan biaya-biaya yang tiba-tiba membengkak.
Kenaikan harga BBM bersubsidi ini akan terlewati jika semua pihak dapat melakukan efisiensi. Tanpa itu, kenaikan harga BBM akan mengurangi pencapaian laba perusahaan, atau jika tidak, membakar cash flow perusahaan. Sebab, daya tahan kredit akan makin ringkih akibat kenaikan harga minyak ini. (*)
Penulis adalah Penanggung Jawab/Wakil Pemimpin Redaksi Infobank
Sumber : Infobank
Rabu, 04 Januari 2012
Agar Konsumen Loyal di Era Ledakan Informasi
Makin hari tugas departemen marketing makin menantang karena begitu dinamisnya persaingan. Itu semua terjadi karena saat ini begitu berkembangnya teknologi informasi (TI) sehingga persaingan memperebutkan pelanggan jadi makin “keras” dan “kejam”.
Begitu populernya internet, khususnya media sosial seperti Twitter dan Facebook, di Indonesia menjadi penyebab terjadinya ledakan jumlah informasi. Orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai produk serta pembandingnya.
Jika bingung, cukup menulis status di Facebook, “Saya tertarik untuk membeli produk X, tetapi ragu, please advise!” Tidak perlu waktu bermenit-menit untuk mendapatkan berpuluh-puluh masukan dari para anggota komunitas.
Demikian mudah dan banyak tersedianya informasi yang dibutuhkan membuat posisi orang makin baik dalam mengambil keputusan dan menjadikan mereka sadar bahwa mereka adalah seseorang yang punya “bargaining power”, yang bisa menentukan untuk “ya” atau “tidak” ataupun berpindah dari satu pilihan ke pilihan lain.
Customer Relationship Management yang Cerdas
Menghadapi situasi terkini yang sarat dengan kompetisi, semua perusahaan pasti sepakat untuk menerapkan inisiatif customer relationship management (CRM) yang cerdas atau lebih dikenal dengan customer intelligence (CI). CI adalah strategi CRM yang lebih targeted—tidak melakukan promosi secara membabi buta—karena interaksi dengan pelanggan dilakukan secara lebih fokus dan sesuai dengan karakter/perilaku transaksinya.
Hal itu akan menyebabkan respons rate lebih tinggi, meski biaya marketing yang dipergunakan lebih rendah. Untuk memungkinkan itu, sebuah solusi CI yang baik harus mencakup hal-hal berikut.
Satu, memiliki data pelanggan dan catatan transaksinya. Agar dapat memahami dan memperkirakan perilaku pelanggan dalam bertransaksi, hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami karakter, perilaku, tingkat keuntungan yang dihasilkan pelanggan (life time value), serta tingkat risikonya. Semua itu dapat diperoleh dari data pelanggan dan catatan transaksinya.
Dua, dapat berinteraksi dengan pelanggan secara khusus. Karakter umum para pelanggan dewasa ini adalah mereka ingin diperlakukan sebagaimana dirinya (personalized) dan tidak mau menerima perlakukan standar yang umum.
Hal itu memungkinkan dengan tersedianya fasilitas untuk memetakan perilaku dan kelompok pelanggan dengan menggunakan perangkat data mining. Perangkat data mining yang andal dapat dengan mudah memetakan perilaku pelanggan (high value, medium value, atau low value) dan memprediksi kecenderungannya (untuk cross-sell, up-sell, atau berpindah ke produk lain).
Tiga, monitoring pencapaian dan peningkatan kinerja. Sebuah organisasi pemasaran yang efektif dan efisien harus mudah melakukan “penyesuaian-penyesuaian” dicocokkan dengan situasi lapangan. Untuk itu, tersedianya sebuah sistem pelaporan serta indikator-indikator kinerja, seperti “respons rate” dan “life time value”, yang mudah dipahami menjadi mutlak agar para pengambil keputusan bisa dengan cepat mengambil langkah-langkah penyesuaian terhadap model perilaku pelanggan dan program-program marketing yang ada.
Tantangan
CI adalah sebuah strategi marketing berbasis TI yang andal. Agar berhasil dalam implementasinya, perhatikan dua hal berikut. Satu, kurang tersedianya data dalam bentuk elektronik dalam kualitas yang baik menjadikan tidak akuratnya pemahaman. Bahkan, tak jarang menyebabkan model perilakunya jadi salah.
Dua, tidak tersedianya sebuah ”analytically driven marketing”. Inilah tantangan terberat yang ada. Tak banyak perusahaan yang memiliki tim marketing analytics. Tidak hanya karena memang tak mudah menguasai dasar-dasar keilmuannya dan data yang diperlukan, tetapi juga karena gaya marketing yang lebih percaya pada intuisi ketimbang data. Sudah siapkah perusahaan Anda menerapkan CI? (*)
Penulis adalah praktisi di bidang teknologi informasi.
Sumber : Infobank
Senin, 12 Desember 2011
60% UMKM Dikelola Pengusaha Wanita
Jakarta–Pengusaha mikro, kecil dan menengah merupakan fondasi bagi perkembangan ekonomi di Indonesia. Pengusaha mikro, kecil dan menengah menjadi motor inovasi dan perkembangan nasional karena dapat membuka lapangan pekerjaan, menyediakan barang dan jasa nasional serta berkontribusi dalam PDB dan memberantas kemiskinan.
Demikian disampaikan dalam talk show “Tantangan dan Peluang Wirausaha Wanita Menuju Kesuksesan”, di Jakarta, Selaa, 6 Desember 2011, yang digelar Sahabat Wanita, inisiatif dari Putera Sampoerna Foundation dalam menjalankan kegiatan pencerahan masyarakat melalui pemberdayaan wanita
Perempuan pengusaha mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, dari total kegiatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, 60% dikelola oleh kaum pengusaha wanita. Berdasarkan data di atas, dapat dikatakan bahwa perempuan pengusaha mempunyai peranan yang sangat penting dalam ekonomi nasional.
“Partisipasi perempuan dalam pertumbuhan ekonomi sangatlah penting, tidak hanya untuk menurunkan tingkat kemiskinan di kalangan perempuan, tetapi juga sebagai langkah penting menuju peningkatan pendapatan rumah tangga dan mendorong pembangunan ekonomi negara secara keseluruhan,” ungkap Managing Director Putera Sampoerna Foundation, Nenny Soemawinata, sekaligus Ketua Pengurus Koperasi Sahabat Wanita.
Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh perempuan pengusaha untuk maju. Pada dasarnya, terdapat tiga tantangan besar yang dihadapi oleh perempuan di Indonesia ketika memasuki dunia usaha, yaitu rendahnya pendidikan dan kurangnya kesempatan pelatihan bagi perempuan, keterbatasan dalam budaya dan kurangnya akses ke layanan pinjaman.
“Tantangan ini dapat diatasi oleh pengembangan kesempatan pendidikan dan pelatihan kepada perempuan pengusaha dan juga membuka akses kredit untuk mereka. Dengan demikian, mendorong pertumbuhan perempuan pengusaha UMKM dan membantu mengurangi angka kemiskinan di Indonesia,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS 2009, terdapat 3,9 juta perempuan angkatan kerja yang termasuk ke dalam pengangguran dan 30 juta perempuan yang hanya bekerja mengurus rumah tangga dan tidak mandiri secara ekonomi. Jika pun mereka bekerja, 72% dari perempuan Indonesia bekerja di sektor pertanian, 28% bekerja di sektor non-pertanian dan 19,63% bekerja di sektor informal. Data juga menunjukkan bahwa penghasilan pekerja perempuan 50% lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa perempuan akan memiliki kesempatan yang kecil untuk melakukan pemutusan proses pewarisan kemiskinan karena tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih baik untuk dirinya sendiri dan keluarganya.
“Peningkatan pemberdayaan perempuan diperlukan untuk memperjuangkan kesetaraan gender melalui pelatihan dan pemberdayaan ekonomi, demi menciptakan kemandirian di kalangan kaum perempuan. Sebagai mitra strategis Putera Sampoerna Foundation, Sahabat Wanita merupakan kegiatan pencerahan masyarakat melalui pemberdayaan perempuan, dimana perempuan merupakan elemen penting dalam penciptaan calon-calon pemimpin masa depan,” jelas Nenny.
“Selain tantangan dalam bentuk pengembangan SDM perempuan, budaya dan pembiayaan usaha, masih ada satu lagi tantangan bagi perempuan dalam membangun dan mengembangkan usaha mereka. Tantangan tersebut adalah jaringan pemasaran,” tambah President Director PT Jaty Arthamas, Santi Mia Sipan, yang menjadi salah satu narasumber dalam talk show.
Dalam sisi membangun jaringan pemasaran bagi pengusaha perempuan, Sahabat Wanita juga membantu anggotanya melalui program “Jaringan Ritel Sahabat”, yaitu membantu anggotanya untuk mempunyai warung kelontong ataupun usaha lainnya dan membangun bisnis mereka. (*)
Sumber : Infobank
Kamis, 08 Desember 2011
Perbankan Asia di Tengah Ancaman Krisis Global
Kepanikan di sektor finansial disebabkan ambruknya instrumen derivasi berbasiskan kredit perumahan kelas dua (subprime mortgage) di Amerika Serikat (AS) bisa menjadi ancaman serius industri perbankan di seluruh dunia, termasuk Asia. Hingga sekarang, terdapat dua pendapat mengenai dampak kejadian di AS tersebut terhadap perekonomian dunia.
Pendapat pertama mengatakan, insiden ini bisa menjalar ke mana-mana, menyerupai efek domino atau contagion effect, tanpa bisa dibendung. Dunia pernah mengalami hal serupa, tapi kejadiannya sudah sangat lama, yakni ketika kepanikan di sektor finansial (industri perbankan dan pasar modal) pada 1929 merembet ke mana-mana di seluruh dunia. Kejadian tersebut baru bisa reda setelah tujuh tahun, yaitu pada 1936.
Pendapat kedua meyakini, insiden ini bisa dihentikan karena kepanikan kali ini dimulai di New York dan direspons dengan cepat oleh negara yang paling berkepentingan, yaitu AS, didukung sekutu-sekutu ekonominya, seperti Uni Eropa, Jepang, dan Kanada. Ketika negara-negara terkemuka dunia ini berupaya secara all out memerangi krisis, kita pun boleh berharap, hal ini akan efektif.
Dalam sepuluh tahun terakhir, sejak terjerembab dalam krisis pada 1997-1998, sektor finansial Asia telah melakukan serangkaian restrukturisasi secara signifikan. Hal ini juga didukung kinerja perekonomian Asia yang kini berstatus sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Kontribusi Asia terhadap pembentukan output global kini mencapai 40%, dari sisi perdagangan dunia menyumbang 25%, dan dalam hal penguasaan cadangan devisa mencapai 67%.
Pemilik cadangan devisa terbesar di dunia adalah Republik Rakyat China (RRC), yang kini mencapai US$1.330 miliar. RRC juga menjadi negara yang perekonomiannya tumbuh paling cepat di dunia, yaitu 11,5% (semester pertama 2007), disusul India 9,3% (April-Juni 2007). Angka-angka ini fantastis mengingat kedua negara tersebut memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia, masing-masing 1,3 miliar dan 1,1 miliar.
Fakta tersebut mematahkan anggapan bahwa beban jumlah penduduk yang besar akan menjadi kendala besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hipotesis yang menyatakan bahwa perekonomian kedua negara kepanasan (overheating) sejauh ini juga belum terbukti.
Di tengah kinerja perekonomian Asia yang menakjubkan tersebut, sektor perbankan di Asia sesungguhnya masih menyimpan berbagai permasalahan. Joseph Stiglitz, pemenang Nobel Ekonomi 2001, dalam ceramah di Bali (22 Agustus 2007), menyebutkan bahwa tata kelola (governance) masih menjadi isu utama, meski kita sudah belajar banyak dari krisis 1997-1998.
Laporan PriceWaterhouseCoopers, Asia Banking Insights: Tackling the key issues in banking and capital markets in Asia (Maret 2007), juga menyebutkan hal yang lebih kurang sama tentang isu ini.
Disclosures atau keterbukaan dalam laporan keuangan dalam industri perbankan akan menjadi fondasi utama bagi terbentuknya tata kelola yang kuat (strong governance). Bank-bank di Asia diharapkan terus didorong menyampaikan segala informasi yang bersifat material (signifikan) dalam aksi korporasinya (corporate actions), yang akan berdampak tertentu terhadap kinerjanya. Termasuk adalah informasi mengenai pengelolaan manajemen risiko (risk management).
Isu lain yang penting dalam industri perbankan Asia adalah meningkatnya kompetisi antarbank. Hal itu, antara lain, dapat disaksikan dari penentuan suku bunga yang makin volatile. Persaingan melalui suku bunga menjadi hal yang lazim. Di satu sisi bisa mendorong intermediasi dana dari sektor perbankan ke sektor riil; di sisi lain, persaingan suku bunga yang terlalu hebat juga bisa membawa dampak negatif, misalnya menurunnya tingkat kesehatan bank. Akibatnya, sekarang, banyak bank yang menghadapi kendala dalam memenuhi persyaratan permodalan sebagaimana diatur dalam Basel II Accord.
Apa yang dialami negara-negara Asia ini sebenarnya merupakan ulangan dari pengalaman Jepang. Fenomena “gelembung busa sabun” dalam perekonomian (bubble economy) Jepang sudah berhenti sejak satu dasawarsa silam. Perekonomian sudah sulit tumbuh (pertumbuhan nyaris nol alias zero growth). Suku bunga juga mendekati nol persen. Dalam kondisi ini, perbankan Jepang juga mengalami stagnasi. Implikasinya, Jepang harus melakukan berbagai upaya merger dan akuisisi agar terjadi pertumbuhan dalam industri perbankannya.
Dalam kasus industri perbankan RRC, hal yang menarik adalah dominasi perbankan pemerintah yang masih sangat kuat di tengah-tengah gelombang liberalisasi di negara itu yang sudah berjalan cukup jauh. Dominannya perbankan pemerintah dinilai rawan terhadap risiko. Dalam situasi demikian, sulit diharapkan bahwa pengambilan keputusan bisa semata-mata dilandaskan pada kepentingan bisnis. Pengambilan keputusan sulit dipisahkan dari kepentingan-kepentingan nonbisnis (berarti kepentingan politik), yang melibatkan pemerintah (pusat dan daerah) maupun partai politik.
Dengan atau tanpa krisis, upaya (1) mendorong governance, (2) memperkuat struktur permodalan, serta (3) melakukan pertumbuhan nonorganik melalui akuisisi, merger, dan konsolidasi merupakan agenda paling utama dalam industri perbankan di Asia. Yang menarik, meski banyak analisis sering mengkhawatirkan perekonomian RRC—yang disebut-sebut bisa mengalami hard landing karena perekonomiannya “terlalu panas” (overheating)—sejauh ini kekhawatiran itu tetap belum terbukti. Banyak ulasan yang bermuara pada simpulan bahwa perekonomian RRC tumbuh terlalu cepat—kini 11,5% dan harus diturunkan ke level 8% hingga 9%—belum juga menemukan muara pembuktiannya.
Di industri perbankan RRC masih sulit dibayangkan bahwa peran pemerintah akan berkurang melalui privatisasi karena tampaknya, pemerintah RRC masih cukup enjoy dengan situasi sekarang. Kalaupun dugaan para analis benar bahwa perbankan RRC menyimpan bom waktu karena persoalan governance, pemerintah RRC sebenarnya juga pernah berpengalaman. Solusinya adalah melakukan suntikan modal (rekapitalisasi) yang didanai cadangan devisa. Kini, cadangan devisa yang terbesar di dunia (US$1,33 triliun) tentu mengakibatkan Pemerintah RRC lebih percaya diri lagi.
Meski begitu, menjadi tugas seluruh dunia untuk meyakinkan Pemerintah RRC bahwa mereka tidak boleh terlalu percaya diri dan underestimate terhadap peringatan-peringatan yang dilontarkan banyak analis. Dalam hal pertumbuhan ekonomi, jika mereka terus menggenjotnya di level tinggi seperti sekarang, demand terhadap energi akan terus meningkat drastis. Harga minyak dunia sudah melampaui US$81 per barel. Jika ini berlanjut, seluruh dunia, termasuk RRC, akan terancam inflasi. Risikonya, demand terhadap produk-produk RRC pun bisa menurun. Dalam keadaan ini, bukankah perekonomian seluruh dunia akan terkoreksi?
Sudah saatnya, pemangku otoritas perekonomian dunia mendiskusikannya secara intensif dan terbuka agar dapat menghindari krisis ekonomi yang meluas dan mendalam. Pemangku otoritas ekonomi RRC harus mau duduk dan memilah masalahnya dengan pemangku otoritas negara-negara besar lain. Krisis ekonomi dunia hanya bisa dielakkan bila “dikeroyok” secara kolektif. Negara-negara Asia harus ambil bagian penting, terutama RRC. (*)
Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sumber : Infobank
Senin, 14 November 2011
Berbank di Mal, Kenapa Tidak?
Membaca tren yang terjadi di antara pengunjung mal, bank perlu makin memperhatikan mal sebagai lokasi distribusinya. Bank juga perlu mempelajari aktivitas pengunjung yang makin beragam agar bisa mendesain kantor dan layanan yang pas untuk para pengunjung dan sekaligus nasabah itu. Harry Puspito
Area mal di Jakarta diperkirakan mencapai lebih dari 2,5 juta meter persegi. Dalam dua tahun, sebuah media memrediksi akan terjadi lonjakan area mal hampir satu juta meter persegi atau hampir 40% dari area sekarang. Ini adalah sebuah angka yang spektakuler mengingat occupancy rate mal, akhir-akhir ini, baru mencapai 76,3% dan cenderung menurun. Bisa dibayangkan bila mal-mal baru itu dibuka. Di sisi lain, situasi ekonomi negeri ini tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan, sehingga daya beli masyarakat bergeming.
Tak heran jika saat ini disinyalir banyak mal yang sepi pengunjung. Kalaupun ada yang ramai, itu kebanyakan terjadi pada akhir pekan. Pada hari-hari biasa, khususnya Senin, kebanyakan lengang. Beberapa mal baru sangat sepi pengunjung, termasuk pada akhir pekan. Bahkan, ada mal yang sudah tutup. Seperti, Sudirman Palace di daerah berprestise, segitiga emas Jakarta atau Jalan Sudirman. Padahal, mal tersebut baru beroperasi tujuh bulan.
Itu yang terjadi pada tingkat industri. Bagaimana dengan para pengunjung yang disuguhi mal-mal baru dengan segala kemewahannya itu? Apa yang terjadi dengan para pengunjung mal? Ini adalah pertanyaan yang penting untuk dijawab secara akurat. Sebab, di satu sisi, risiko untuk nimbrung berbisnis di mal akan makin besar, sedangkan di sisi lain, peluang-peluang yang tercipta juga bisa luar biasa besar, baik bagi mal itu sendiri maupun berbagai sektor tenant.
Namanya saja shopping mall atau shopping center. Tentu, pusat-pusat belanja ini didirikan untuk melayani para pembelanja yang membutuhkan berbagai produk dan layanan. Dengan mengumpulkan berbagai retailer di satu tempat, pengelola mal berusaha melayani kebutuhan-kebutuhan pembelanja dan mendapatkan bisnis dari pengelolaan malnya itu.
Namun, adanya persaingan yang keras di bisnis permalan tentu membuat pengelola mal harus berpikir keras. Mereka harus bisa memosisikan malnya di mata konsumen dan menciptakan wow factors yang kuat untuk menarik kehadiran pengunjung. Misalnya, adanya keunikan dalam penampilan dan sarana, strategi tenant mix tertentu yang pas untuk target pasar yang disasar, dan penyelenggaraan event-event tertentu.
Perkembangan mal yang luar biasa memang menarik perhatian berbagai pihak. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Sebuah media bahkan menyimpulkan bahwa pengelola mal harus mendefinisi ulang apa sebenarnya peran mal. Sebab, sekarang, banyak hal yang bisa dilakukan seseorang di mal di luar shopping, misalnya, makan siang dan bekerja di kafe-kafe yang ada. Bersosialisasi atau meeting dengan kolega atau klien juga bisa dilakukan di mal. Tidak hanya itu. Mal, khususnya kafe, juga bisa dijadikan tempat belajar para mahasiswa.
Bahkan, banyak anak muda yang datang ke mal untuk sekadar berolahraga di klub fitness yang ada di tempat itu. Anak-anak sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah pertama (SMP) juga banyak yang suka jalan-jalan dan mampir di photo box untuk berfoto bersama. Pada akhir pekan, kita bisa lihat, banyak bioskop di mal yang dipadati penonton.
Lalu, bagaimana dengan bank dan automatic teller machine (ATM)? Ternyata, pelbagai ATM bank yang ada di mal juga ramai dikunjungi nasabah. Bank pun silih berganti melakukan promosi, menawarkan berbagai layanan mereka, seperti kartu kredit, rekening tabungan, dan berbagai kredit.
Perlu pembaca ketahui, di antara pengunjung mal, ternyata, banyak juga yang tidak berbelanja. Sekalipun berbelanja, sebatas barang-barang kecil yang mereka ingat dan butuhkan. Tentu, masih cukup banyak yang betul-betul datang untuk berbelanja, baik kebutuhan sehari-hari, seperti groceries, maupun produk fesyen.
Bagaimana sesungguhnya tren yang terjadi di mall societies? Untuk mengetahui hal ini, tentu, perlu dilakukan sebuah kajian yang lebih mendalam dan bersifat kuantitatif.
Marketing Research Indonesia (MRI) memiliki bacaan seperti ini di Jakarta dari riset “Mall Shopper Habits” yang diselenggarakan setiap dua tahun. Setiap survei, MRI mewawancarai sekitar 500 pengunjung mal dari kelas AB. Bacaan di antara semua pengunjung mal terakhir adalah dari 2005. Sedangkan, pada 2006, survei secara khusus mempelajari pembelanja dari etnis Cina. Selain itu, penulis mendapatkan akses sejumlah data yang menarik dari Roper’s Report dari GfK yang mempelajari tren-tren perilaku konsumen di dunia, termasuk Indonesia.
Survei yang dilaksanakan GfK itu mewawancarai laki-laki dan perempuan berusia 13 tahun ke atas dari enam kota besar di Indonesia dengan mengambil 70% segmen yang di atas dalam hal sosial ekonomi. Sedangkan, di banyak negara maju, survei dilaksanakan di antara semua kelas sosial ekonomi.
Survei GfK itu menunjukkan, sekitar satu dari empat (23%) remaja dan dewasa “berbelanja” di sebuah mal tertutup dalam satu bulan terakhir. Sedangkan, hampir semua orang dewasa di Jakarta adalah pengunjung mal dalam 12 bulan terakhir.
Walau ada perbedaan waktu, dapat diperkirakan, jumlah pengunjung mal jauh lebih banyak daripada jumlah pembelanja di mal. Dengan demikian, bisa disimpulkan, pada masa sekarang, sangat banyak (mungkin mayoritas) pengunjung mal memiliki tujuan lain saat berkunjung ke mal dibandingkan dengan berbelanja. Dengan kata lain, mayoritas pengunjung mal tidak berpikir belanja ketika mereka mengunjungi mal.
Sudah sejak lama, mayoritas pengunjung mal menyambangi mal sebagai sebuah rekreasi. Hal ini bertahan hingga sekarang. Tapi, ada sejumlah tren di antara mereka yang menarik dicermati, walau mayoritas pengunjung mal masih menikmati waktu-waktu berbelanjanya dan jumlah pengunjung mal cenderung menurun dalam kurun waktu survei. Artinya, makin banyak yang kurang menyukai kegiatan shopping. Kemungkinan, hal itu berhubungan dengan kesibukan konsumen yang makin tinggi, sehingga mereka tidak bisa lagi menghabiskan waktunya untuk kegiatan shopping.
Tren menarik lain adalah sekarang makin banyak pengunjung mal yang mengunjungi mal untuk sekadar berbelanja (dari 15% pada 2001 hingga 45% pada 2005). Itu adalah tren yang berbeda dengan sekelompok pengunjung mal lain yang mengunjungi mal bukan lagi untuk berbelanja, melainkan untuk berbagai kegiatan lain.
Tampaknya, situasi juga mengakibatkan kian banyak pengunjung mal yang suka mengunjungi mal-mal baru (dari 31% menjadi 45%). Bisa jadi, hal itu disebabkan mereka bosan dengan mal yang biasa mereka kunjungi. Mereka pun mencoba mal-mal baru. Tak heran jika banyak mal baru saat pertama kali buka dipenuhi pengunjung. Tapi, kalau mal-mal baru itu tak hati-hati, tidak berapa lama kemudian juga akan sepi pengunjung.
Ketika pengunjung mal ditanya, mereka mengklaim, berbelanja masih merupakan kegiatan utama mereka di mal. Ini memang agak bertentangan dengan pengamatan sepintas dan simpulan di atas. Bisa jadi, memang, pengunjung selalu berbelanja “sesuatu” ketika mereka mengunjungi sebuah mal. Tapi, mungkin, kegiatan belanja ini makin bukan yang utama bagi mereka, melainkan merupakan sesuatu yang sekalian mereka lakukan saat mereka punya aktivitas lain di mal. Mayoritas naik dan turun, tapi masih banyak yang melakukan kegiatan window shopping. Artinya, lihat-lihat saja.
Tren yang spektakuler terjadi di mal pada tahun-tahun terakhir ini adalah kegiatan makan. Angkanya melonjak dari 7%, 26%, menjadi 80%, akhir-akhir ini. Mulanya, bisa jadi, pengunjung juga makan di mal. Tapi, bagi mereka, itu merupakan kebutuhan sekunder ketimbang belanja. Tapi, sekarang, tampaknya, sangat banyak yang datang ke mal benar-benar untuk makan, entah siang entah malam.
Satu hal menarik, pengunjung mal mengklaim, mereka melakukan transaksi-transaksi perbankan melalui cabang bank (10%) dan bahkan lebih banyak lagi yang melakukannya melalui ATM (24%)—yang pada tahun-tahun sebelumnya tidak disebutkan mereka.
Akhir-akhir ini, memang, bank tambah aktif masuk ke mal-mal dengan membuka cabang. Lebih-lebih menempatkan ATM masing-masing. Sejumlah bank bahkan membuka kantornya di mal-mal pada akhir pekan. Beberapa bank juga banyak yang menawarkan layanannya dengan melakukan promosi dan penjualan di mal-mal, seperti kartu kredit, rekening tabungan, dan layanan electronic channel (e-channel).
Bisa jadi, kegiatan pemasaran bank yang agresif di mal merupakan salah satu trigger makin meningkatnya kesadaran kegiatan berbank di mal, akhir-akhir ini. Kebutuhan akan uang tunai saat pengunjung mal berbelanja tentu mendorong mereka pergi ke ATM dan cabang bank.
Namun, tren ini bisa juga sejalan dengan perubahan kebiasaan pengunjung mal yang melakukan banyak kegiatan nonbelanja di mal. Sedangkan, mereka memang mencari mal di lokasi yang strategis dan aman yang cocok untuk letak bank atau ATM yang mereka butuhkan. Membaca tren yang terjadi di antara pengunjung mal, bank perlu makin memperhatikan mal sebagai lokasi distribusi mereka. Bank-bank juga perlu mempelajari aktivitas pengunjung yang makin beragam agar bisa mendesain kantor dan layanan yang pas untuk para pengunjung dan sekaligus nasabah itu. (*)
Penulis adalah Managing Director PT Marketing Research Indonesia (MRI).
Sumber : InfobankKamis, 10 November 2011
Kredit Perbankan Di-Drive Konsumsi dan Mikro
Indonesia tak perlu khawatir akan dampak krisis Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang mungkin akan meluas. Pasalnya, negeri ini memiliki pasar dalam negeri yang sangat potensial. Ketergantungan Indonesia pada ekonomi global juga terbilang minim. Bank Rakyat Indonesia (BRI) bahkan memprediksikan, kredit perbankan tahun depan tumbuh sebaik tahun ini.
Kredit konsumer masih akan menjadi driver pertumbuhan kredit pada 2012. Selain konsumer, kredit akan mengalir deras ke sektor mikro. Kredit mikro diperkirakan juga akan menjadi motor penggerak pertumbuhan kredit perbankan. Apalagi, sektor ini terbukti paling tahan terhadap tempaan krisis.
Berapa proyeksi pertumbuhan kredit pada 2012? Apakah tren kenaikan suku bunga juga akan terjadi tahun depan? Sektor mana saja yang akan menerima kucuran kredit perbankan paling besar? Berikut penuturan Achmad Baiquni, Direktur BRI, melalui jawaban tertulisnya kepada Infobank, akhir September lalu. Petikannya:
Indonesia bisa dikatakan menerima dampak minimal dari terjadinya krisis global. Bagaimana Anda melihat proyeksi kinerja kredit perbankan hingga akhir tahun nanti?
Krisis ekonomi dunia tentu saja memiliki dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang perlu kita lihat tentu saja magnitude dampak krisis terhadap perekonomian Indonesia, seberapa fleksibel mengalihkan eksposur global economy ke pasar domestik dan bagaimana cara memberdayakan pasar domestik kita.
Menurut data statistik, total ekspor Indonesia memiliki kontribusi 27,3% terhadap total GDP (gross domestic product) Q2 2011. Dari ekspor tersebut, 80% berupa nonmigas dan sisanya migas. Dari nonmigas, besarnya eksposur Indonesia terhadap Uni Eropa dan Amerika masing-masing sebesar 13,35% dan 9,99% atau berarti sekitar 2,92% dan 2,19% dari GDP Q2 2011. Angka ini menunjukkan besarnya eksposur Indonesia terhadap kedua kawasan yang saat ini terkena krisis, yang nilainya jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara lainnya, seperti Korea dan Taiwan, yang memiliki eksposur kepada ekonomi global (ekspor) lebih dari 40% dari total GDP mereka.
Selain itu, bila melihat potensi dalam negeri sendiri, Indonesia merupakan pasar yang memiliki potensi sangat besar, didukung oleh total penduduknya yang mencapai kurang lebih 240 juta dan lebih dari 50% GDP ditopang oleh konsumsi rumah tangga; 55% penduduk berusia di bawah 30 tahun, hanya 9,3% berusia di atas 55 tahun; loan to GDP yang relatif rendah (sekitar 27%); dan jumlah penduduk usia dewasa yang memiliki rekening di bank kurang dari 50%. (Itu) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi dalam negeri yang sangat potensial, tanpa harus bergantung pada perekonomian global.
Melihat faktor pendukung di atas, kami memperkirakan bahwa kinerja perbankan di Indonesia hingga akhir tahun masih cukup bagus. Kalaupun ada dampak, perbankan dengan nasabah yang memiliki eksposur besar terhadap kawasan Eropa dan Amerika yang paling terkena imbas. Itu pun mungkin baru sangat signifikan akan terlihat pada tahun depan. Namun, sepanjang perbankan Indonesia memiliki orientasi pasar domestik, dampak krisis global tidak akan terlalu terasa.
Meski saat ini krisis global belum begitu memengaruhi kinerja kredit perbankan, belum diketahui secara pasti bagaimana dampak krisis tersebut tahun depan. Bagaimana proyeksi kinerja kredit perbankan pada 2012?
Kembali lagi kami sampaikan bahwa sepanjang perbankan nasional dapat mengalihkan bisnisnya dengan orientasi domestik dan mampu memberdayakan potensi yang ada (prospektif nasabah yang belum tergarap cukup besar, terutama di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM), kami melihat, kinerja perbankan dan pertumbuhan pinjaman pada 2012 masih cukup tinggi. Mungkin bisa sama dengan pertumbuhan pinjaman perbankan pada kuartal kedua tahun ini yang mencapai sekitar 24%.
Kredit yang mengalir saat ini banyak di-drive kredit konsumer dan mikro. Apakah tren ini masih akan berlanjut pada 2012? Faktor apa saja yang mendukung proyeksi tersebut?
Melihat kondisi ekonomi global saat ini dan Indonesia memiliki potensi pasar UMKM dan penduduk yang sangat besar, kredit mikro dan konsumer akan mendapat driver pertumbuhan kredit di tahun depan. BRI sendiri sudah melihat peluang ini dengan mempersiapkan infrastruktur, SDM (sumber daya manusia), dan kapasitas untuk dapat meningkatkan penetrasi hingga menyentuh pengusaha mikro yang jumlahnya jutaan dan kebanyakan dari mereka belum pernah berbankir sama sekali.
Mereka itulah yang sebenarnya perlu mendapat perhatian dan pembinaan dari sektor perbankan untuk mengembangkan bisnis mereka dan memberikan akses permodalan bagi mereka. Berdasarkan pengalaman kami, sektor mikro inilah yang lebih tahan dari terpaan krisis global.
Bagaimana nasib penyaluran kredit produktif pada 2012? Apa faktor pendukungnya?
Kredit yang kami salurkan ke sektor mikro lebih dari 50% adalah untuk modal kerja dan sisanya untuk investasi dan lainnya. Ini berarti, pembiayaan sektor mikro adalah pembiayaan yang sifatnya produktif. Nantinya, melalui pembiayaan mikro ini usaha nasabah dapat lebih berkembang pada skala yang lebih besar, seperti naik kelas menjadi pengusaha kecil lalu menengah.
Pada 2012 BRI memperkirakan, usaha mikro, kecil, dan menengah akan menjadi motor utama pertumbuhan kredit perbankan. Dengan target pasar dari pengusaha MKM ini adalah pasar domestik Indonesia, baru kemudian negara lain di luar AS dan Eropa, kami yakin kredit yang diberikan akan tetap “sehat” dan membawa dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Berkaitan dengan potensi kenaikan suku bunga kredit perbankan, apakah tren ini masih akan terjadi hingga akhir tahun nanti?
Dengan tren suku bunga yang diproyeksikan akan relatif stabil, suku bunga kredit perbankan juga akan relatif stabil.
Bagaimana tren suku bunga pada 2012? Bagaimana pula pengaruhnya pada pertumbuhan kredit?
Inflasi diproyeksikan tetap akan berkisar (pada angka) 5% pada 2012 sehingga diprediksikan BI Rate tidak akan meningkat. Stabilnya suku bunga akan membawa pengaruh positif terhadap pertumbuhan kredit.
Penyaluran kredit ke sekor mana saja yang pertumbuhannya signifikan pada 2012?
Sektor perdagangan tetap akan menjadi sektor terbesar, mengingat sebagian besar nasabah BRI adalah UMKM.
Bagaimana dengan penyaluran kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi?
(Untuk) perbankan Indonesia, pertumbuhan penyaluran kredit pada 2012 akan sejalan dengan pertumbuhan kredit pada 2011 dengan komposisi pertumbuhan kredit untuk masing-masing jenis penggunaan yang hampir sama dengan pertumbuhan pada 2011.
BRI sendiri menargetkan, kredit mikro dan konsumer akan tetap menjadi growth driver pertumbuhan kredit pada 2012, mengingat potensi kredit yang masih tinggi untuk segmen ini dan competitive advantage yang dimiliki BRI, seperti jaringan dan pengalaman di perbankan mikro.
Bagaimana outlook bisnis perbankan secara umum pada 2012?
Melihat penetrasi perbankan di Indonesia yang masih sangat rendah, terefleksi dari angka loan to GDP sekitar 27% ditambah dengan prospek dan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tinggi pada 2012, kami yakin bisnis perbankan Indonesia pada 2012 masih sangat menjanjikan.
Hal lainnya, meskipun persaingan akan semakin meningkat, dengan luasnya lahan dan besarnya potensi bisnis, bank-bank yang memiliki konsep bisnis dan produk perbankan yang competitive akan dapat tumbuh dengan baik. (*)
Sumber : Infobank
Hati-hati, Hadiah dan Cash Back Bisa Buat Dana Tidak Dijamin LPS
Jakarta–Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meminta perbankan mengumumkan suku bunga, sehingga nasabah bisa tahu besaran bunga yang diterimanya. Karena tidak jarang bank yang menawarkan hadiah atau cash back sebagai pemanis produknya.
Menurut Kepala LPS Firdaus Djaelani, melalui siaran persnya di Jakarta, Senin 7 November 2011, hal tersebiut dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan serta perlindungan kepada penyimpan dana dan sesuai pasal 3 huruf (g) peraturan LPS No 2/PLPS/2010 tentang program penjaminan simpanan.
“LPS telah meminta kepada seluruh bank peserta penjaminan untuk menempatkan pengumuman maksimum tingkat bunga yang dianggap wajar yang ditetapkan LPS,” tukasnya.
Selain itu, LPS juga meminta bank untuk mengumumkan maksimum nilai simpanan per-nasabah per-bank yang dijamin pada setiap kantor bank. Hal yang cukup penting yang kebanyakan tidak diketahui masyarakat awam adalah pemberian cash back maupun hadiah yang ternyata masuk komponen suku bunga.
“Jadi, kita bersama Bank Indonesia (BI) telah mengkaji mengenai suku bunga termasuk cash back dan hadiah-hadiah. Ketika nasabah mendapatkan uang tunai di muka atau cash back maka sudah pasti termasuk dalam perhitungan komponen suku bunga, begitu pun dengan hadiah” tandas Firdaus.
Ia menjelaskan, dengan masuknya cash back dan hadiah tersebut dalam komponen suku bunga, setelah dihitung maka bunga yang diberikan ke nasabah tidak jarang menjadi tidak sesuai dengan tingkat kewajaran bunga yang ditetapkan LPS untuk dijamin seandainya bank ditutup.
Kasus cash back ini sempat ramai setelah sejumlah mantan nasabah Bank IFI berkeluh kesah mengenai dana mereka yang akhirnya tidak dibayarkan LPS karena telah menerima cash back. Pemberian cash back itu dinilai LPS telah menyalahi ketentuan bunga penjaminan yang ditetapkan LPS.
Adapun jumlah rekening nasabah Bank IFI yang dananya tidak dikembalikan LPS karena tidak sesuai dengan bunga penjaminan dari LPS mencapai 101 rekening dengan total dana mencapain Rp48 miliar.
Seperti diketahui, BI mencabut izin Bank IFI pada April 2009, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 11/19 /KEP.GBI/2009 tanggal 17 April 2009, BI memutuskan untuk mencabut izin usaha PT Bank IFI. (*)
Sumber : Infobank
Senin, 24 Oktober 2011
5 Pilihan Kinerja Luar Biasa
Jakarta–Setiap hari kita seakan dibombardir oleh berbagai hal yang menyita perhatian. Mulai dari bangun tidur, rasanya tidak afdol bila kita tidak men-check smartphone atau tablets yang kita miliki, check messenger update, Facebook, Twitter, email hingga mencari berita terbaru melalui berbagai situs berita online. Saat sarapan atau makan malam bersama keluarga-pun terkadang, perhatian kita masih tersita untuk menjawab pesan-pesan yang masuk atau menonton televisi.
Tak hanya perhatian kita yang tersita, perubahan di era pegetahuan dan informasi ini semakin cepat terjadi. Setiap hari kita dituntut untuk menghadapai berbagai kompleksitas pekerjaan yang menuntut kita untuk mengambil berbagai keputusan, namun seringkali keputusan tersebut harus kita ubah lagi dengan cepat.
Tidak itu saja, saat ini setiap profesional yang bekerja di kota besar seperti Jakarta harus mengakrabkan diri dengan kemacetan. Berangkat kerja di pagi buta dan pulang saat malam telah menjelang menjadi pilihan untuk menghindari kemacetan yang semakin parah dari hari ke hari. Namun, kompetisi bisnis saat ini juga semakin ketat. Setiap profesional dituntut untuk makin produktif dan meningkatkan efektivitas kerja mereka.
Seringkali pekerjaan yang belum terselesaikan terpaksa untuk dibawa pulang ke rumah, dikerjakan hingga larut malam bahkan akhir pekan. Meski telah melakukan itu semua, banyak yang merasa bahwa pekerjaan yang dilakukan belum bisa terselesaikan dengan baik. Kesibukan ini membuat energi kita seakan-akan tersedot habis hingga kita mengalami krisis energi.
Hal ini diperparah pula dengan pola makan yang tidak teratur, polusi, konsumsi junk food hingga karena kesibukan tak sempat lagi kita berolahraga. Sering kita merasa sudah terlalu lelah untuk menyelesaikan pekerjaan dan seakan-akan membutuhkan waktu istirahat yang lebih lama.
Kesibukan sering membuat kita lupa untuk relax dan me-recharge energy sehingga mampu menghasilkan kinerja yang lebih maksimal lagi. Lebih disayangkan lagi, hubungan dengan keluarga pun menjadi renggang, tidak terjaga dengan baik.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh FranklinCovey menunjukkan fakta bahwa para profesional hanya menggunakan 30% waktu yang mereka miliki untuk mengerjakan hal-hal yang penting. Sisa 70% waktu ternyata digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang kurang penting bahkan tidak relevan dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak dapat dipungkiri, kenyataan ini sering menghambat kita untuk menghasilkan kinerja yang luar biasa (extraordinary result).
Meski demikian, setiap professional sebenarnya memiliki kesempatan untuk menghasilkan extraordinary result, yaitu dengan mengubah prioritas kita dengan melakukan 70% hal yang penting dan 30% untuk hal yang tidak penting dalam pekerjaan tersebut. Untuk menghasilkan kinerja yang luar biasa tersebut, kita perlu untuk memprioritaskan bukan sekedar waktu, namun memprioritaskan keputusan (decision), perhatian (attention) dan energy kita.
Dengan memprioritaskan ketiga hal ini, maka kita akan mampu membuat keputusan yang memiliki nilai tambah tinggi, sehingga membuat fokus perhatian kita tetap terjaga pada hal-hal yang penting serta kita dapat menjaga keseimbangan energy kita untuk mencapai hasil yang luar biasa tersebut.
Dunamis Organization Services, mitra FranklinCovey USA di Indonesia, meluncurkan satu solusi baru untuk membantu individu dan organisasi meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan hasil yang extraordinary, yaitu “The 5 Choices to Extraordinary Productivity”.
“The 5 Choices to Extraordinary Productivity” mempermudah individu dan organisasi untuk meningkatkan produktivitas dengan membantu setiap orang di setiap level organisasi untuk memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang penting dan utama sehingga mampu mengambil keputusan dengan tepat, meningkatkan efektivitas waktu yang mereka miliki, sehingga energi mereka dapat terjaga untuk melakukan aktivitas yang memiliki high-impact dan memberikan hasil yang maksimal.
Seperti dijelaskan dalam release-nya di Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2011, 5 pilihan yang akan membantu meningkatkan produktivitas kita untuk mencapai hasil yang extraordinary dalam “The 5 Choices to Extraordinary Productivity” meliputi:
1. Act on the Important, don’t react to the urgent (Bertindak pada hal-hal yang penting, bukan reaktif pada hal-hal mendesak)
2. Go for Extraordinary, don’t settle for ordinary (Menentukan tujuan untuk mencapai hasil yang maksimal, tidak melakukan pekerjaan hanya dengan cara yang biasa-biasa saja)
3. Schedule the Big Rocks, don’t sort gravel (Menjadwalkan hal-hal yang menjadi prioritas utama dan mengeksekusinya secara konsisten)
4. Rule your Technology, don’t let it rule you (Mengendalikan teknologi yang ada untuk memudahkan kita mencapai tujuan, bukan tenggelam dalam kecanggihan teknologi saja)
5. Fuel your Fire, don’t burn out (Selalu me-recharge energy untuk fisik, mental, social dan spiritual kita, bukan hanya melakukan aktivitas-aktivitas fisik yang melelahkan saja). (*)
Sumber : Infobank
Jumat, 21 Oktober 2011
Kebutuhan Nasabah Bertambah, Perbankan Perlu Tingkatkan Layanan
Jakarta–Semakin bertumbuhnya masyarakat kelas menengah ke atas di Indonesia diharapkan bisa diikuti dengan peningkatan pelayanan prima industri perbankan baik dari sisi produk maupun layanan.
“Di tengah berkembangnya industri perbankan d Indonesia, kita harapkan dengan CWMA (certified wealth management association) ini, yang memberikan sertifikasi dan jaminan-jaminan yang lebih baik, diharapkan para ekspertis kita bisa menjadi lebih baik,” tukas Wakil Ketua Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Jahja Setiaatmadja, di Jakarta, Selasa, 18 Oktober 2011.
Melalui CWMA dan kegiatan yang dilaksanakan, lanjutnya, merupakan hal yang sangat positif dalam meningkatkan hubungan para staf dan jajaran dalam menekuni bidang wealth management.
Seiring dengan bertumbuhnya pasar keuangan di Indonesia, dan bertambahnya masyarakat kelas menengah ke atas diharapkan bisa meningkatkan akselerasi (percepatan) bisnis, sehingga memberikan imbas terhadap industri perbankan.
“Masyarakat high network bertambah, pendapatan perkapita sudah capai USD 3000. Ini jadi sangat menarik bagi kita, jadi penambahan buying power, saving masyarakat meningkat. Ini akan meningkatkan konsumsi dan peningkatan sektor riil,” tutur Jahja.
Menurutnya, dengan peningkatan di sektor riil, maka akan meningkatkan juga usaha-usaha baru, sehingga akselerasi perekonomian di Indonesia semakin besar. Tentunya, ke depan diharapkan dapat mendukung pertumbuhan pendapatan perkapita masyarakat, termasuk di dalamnya masyarakat kelas menengah ke atas.
“Untuk affluence (kelas menengah ke atas), memang pasarnya sendiri masih kecil. Tapi dari total populasi kita yang besar mencapai 240 juta jiwa, itu persentase tetap menjadi besar. Kalau 10% saja sudah sebanyak penduduk Singapura,” ucapnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan nasabah prima sendiri sangat berbeda dengan nasabah umumnya, sehingga perlu pengembangan produk sesuai dengan kemampuan investasi, juga pelayanan yang berkualitas dari sumber daya manusia yang memahami seluk beluk wealth management. (*)
Sumber : Infobank
Minggu, 09 Oktober 2011
BPR PERCONTOHAN : Bank Indonesia mengkaji model bisnis BPR
Kriteria tersebut diantaranya, pertama, dalam lima tahun BPR tersebut harus memiliki rasio kecukupan modal (CAR) di atas 10%. Kedua, loan to deposit ratio (LDR) sekitar 94%. Ketiga, penyaluran kredit terus meningkat. Keempat, non performing loan (NPL) di bawah 5%.
Di samping itu, BI juga akan melihat diversifikasi risiko yang dilakukan setiap BPR. Misalnya, tidak terkonsentrasi di sektor konsumsi saja melainkan juga memberikan kredit modal kerja.
Dari hasil evaluasi terhadap sekitar 1.700 BPR di seluruh Indonesia, BI akan menentukan tiga BPR sebagai percontohan. "Model bisnis ini tidak bisa berdiri sendiri-sendiri akan tetapi merupakan kombinasi dari ketiga BPR tersebut. Namun, perlu dipahami bahwa model bisnis ini nanti bukan satu-satunya kerena jumlah BPR yang 1.700-an tersebut memiliki keragaman visi," ujar Edy, Rabu (17/8).
Edy menambahkan, saat ini model bisnis tersebut masih akan dipresentasikan lagi ke Dewan Gubernur BI. Dengan adanya model bisnis ini, BI berharap BPR-BPR dapat berkembang lebih baik sesuai karakteristik masing-masing.
Sumber : http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/1313637653/75646/Bank-Indonesia-mengkaji-model-bisnis-BPR
Senin, 26 September 2011
5 Pilihan Meningkatkan Produktifitas
Jakarta–Di era pengetahuan dan teknologi saat ini, kesempatan bagi individu maupun organisasi untuk menghasilkan hal-hal yang extraordinary sebenarnya sangat terbuka lebar. Namun, seringkali menumpuknya pekerjaan yang seakan tiada henti dan ditambah dengan kemudahan kita untuk menerima informasi dari berbagai sumber seperti telepon, sms, internet maupun email terasa sangat menganggu.
Ha-hal ini dapat menghambat kemampuan kita untuk berpikir secara jelas dan mengambil keputusan dengan tepat. Bila kita terus terjebak dalam situasi ini, tak dapat dipungkiri, keseimbangan hidup kita baik secara personal maupun professional dapat terganggu dan mempersulit mencapai hasil yang extraordinary.
Untuk membantu individu dan organisasi meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan hasil yang extraordinary, FranklinCovey USA meluncurkan satu solusi baru, yaitu “The 5 Choices to Extraordinary Productivity”.
Seperti dijelaskan Dunamis Organization services, dalam siaran pers-nya kepada Infobanknews.com, di Jakarta, belum lama ini djelaskan, “The 5 Choices to Extraordinary Productivity” mempermudah individu dan organisasi meningkatkan produktivitas dengan membantu setiap orang di setiap level organisasi untuk memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang penting dan utama, sehingga mampu mengambil keputusan dengan tepat, meningkatkan efektivitas waktu yang mereka miliki sehingga energy mereka dapat terjaga untuk melakukan aktivitas yang memiliki high-impact dan memberikan hasil yang maksimal.
5 pilihan yang akan membantu meningkatkan produktivitas kita untuk mencapai hasil yang extraordinary dalam “The 5 Choices to Extraordinary Productivity ” meliputi:
Choice 1: Act on the Important, don’t react to the urgent (Bertindak pada hal-hal yang penting, bukan reaktif pada hal-hal mendesak)
Choice 2: Go for Extraordinary, don’t settle for ordinary (Menentukan tujuan untuk mencapai hasil yang maksimal, tidak melakukan pekerjaan hanya dengan cara yang biasa-biasa saja)
Choice 3: Schedule the Big Rocks, don’t sort gravel (Menjadwalkan hal-hal yang mejadi prioritas utama dan mengeksekusinya secara konsisten)
Choice 4: Rule your Technology, don’t let it rule you (Mengendalikan teknologi yang ada untuk memudahkan kita mencapai tujuan, bukan tenggelam dalam kecanggihan teknologi saja)
Choice 5: Fuel your Fire, don’t burn out (Selalu me-recharge energy untuk fisik, mental, sosial dan spiritual kita, bukan hanya melakukan aktivitas-aktivitas fisik yang melelahkan saja).
Sumber : www.infobanknews.com
Minggu, 11 September 2011
Siapa Mau Memberi Hadiah?
Salah satu bentuk promosi yang banyak dilakukan perusahaan-perusahaan dalam rangka merebut pangsa pasar adalah dengan “memberikan hadiah”. Tidak ketinggalan bank-bank. Bank-bank menawarkan macam-macam hadiah, apakah dalam bentuk undian barang-barang besar seperti rumah, mobil, sepeda motor, dan barang-barang elektronik ataupun barang-barang kecil sebagai hadiah langsung tanpa diundi seperti boneka, alat tulis, dan buku harian. Ketika pemberian hadiah oleh bank sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan berbagai bank, bagaimana sikap dan sambutan masyarakat terhadap penawaran hadiah-hadiah itu?
Sebuah survei dilakukan Marketing Research Indonesia (MRI) pada 2010 untuk mengetahui sikap nasabah tabungan terhadap penawaran hadiah oleh bank dan dampaknya terhadap sikap serta perilaku mereka terhadap bank. Survei yang bertajuk “MRI’s Saving Account Study 2010” itu mewawancara lebih dari 500 responden nasabah dari enam kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar.
Berdasarkan survei, ternyata tidak banyak nasabah yang memerhatikan penawaran hadiah oleh berbagai bank. Hanya satu dari tiga nasabah yang mengaku memerhatikan. Dari enam kota yang disurvei, menarik diamati, ternyata nasabah dari Makassar, Medan, dan Jakarta yang lebih perhatian terhadap hadiah dibandingkan dengan nasabah dari ketiga kota lain, khususnya Semarang, yang menunjukkan paling tidak peduli dengan promosi hadiah.
Dari segi usia, ternyata nasabah yang paling perhatian terhadap hadiah dari bank adalah kelompok usia 30-39 tahun. Usia ini adalah usia menjelang puncak karier seseorang. Apakah dengan demikian kelompok ini paling berambisi untuk mendapatkan sesuatu secara ekstra?
Minat usia selanjutnya terhadap hadiah drop secara signifikan. Mungkin mereka menginginkan yield yang lebih riil daripada hadiah-hadiah yang tidak jelas. Usia yang lebih muda mungkin lebih tahu diri bahwa hadiah-hadiah itu menuntut mereka untuk membuka rekening baru atau menamba saldo dan mereka belum memiliki dana yang leluasa untuk itu.
Dari kelas sosial ekonomi, ternyata yang paling berminat terhadap hadiah adalah nasabah dari kelas B dari pembagian kelas ABCDE berdasarkan pada pengeluaran rumah tangga mereka. Perhatian terhadap program hadiah berkurang pada kelas A dan kelas-kelas yang lebih rendah dan terendah pada kelas DE. Dari sisi gender, nasabah wanita tampak lebih memerhatikan soal hadiah daripada nasabah pria. Tampaknya sudah menjadi natur wanita, yang menyukai dan memerhatikan hadiah.
Bagaimana tanggapan nasabah ketika mereka mengetahui suatu tabungan sedang menawarkan berbagai hadiah? Untuk mendapatkan perkiraan jumlah nasabah sesuai dengan klaim perilaku mereka, diambil nilai tertinggi dari skala lima yang digunakan dalam survei. Dari berbagai kemungkinan tanggapan positif nasabah terhadap promosi berhadiah itu, paling banyak nasabah akan meningkatkan saldo mereka di tabungan yang sedang memberikan hadiah itu (14%).
Dampak berikut yang mereka rasakan dari penawaran hadiah adalah meningkatnya penghargaan dan loyalitas mereka terhadap bank (9%). Ini berarti nasabah akan terus menggunakan bank tersebut, bahkan meningkatkan penggunaan bank.
Survei ini juga menangkap bahwa dalam jumlah nasabah yang lebih kurang sama akan mempertahankan dana pada bank yang menawarkan hadiah (8%) dan mereka akan mempromosikan bank tersebut kepada orang lain (8%). Keuntungan seperti ini tentu menjadi signifikan kalau bank-bank lain tidak menawarkan hadiah dan tidak memiliki strategi alternatif untuk meningkatkan loyalitas nasabah mereka. Namun, dampak akuisisi dana baru melalui pembukaan tabungan di bank yang sedang melakukan promosi (5%) atau pemindahan dana dari satu bank ke bank lain yang sedang melakukan promosi (0%) tampaknya sangat minim terjadi.
Dari berbagai bentuk hadiah yang selama ini banyak ditawarkan berbagai bank, hadiah langsung jelas masih yang paling dipilih nasabah (73%). Bentuk hadiah langsung (dibandingkan dengan bentuk-bentuk lain) paling disukai nasabah dari semua kota yang disurvei dan paling banyak dipilih oleh nasabah dari semua kelompok demografis. Item hadiah kecil yang paling banyak digandrungi nasabah adalah boneka lucu (40%). Hadiah boneka lucu paling disukai nasabah Jakarta (53%), jauh dibandingkan dengan nasabah-nasabah ke lima kota lain (26%-38%). Tampaknya masyarakat Ibu Kota sangat membutuhkan hiburan dan kehangatan, lebih dari masyarakat kota-kota lain.
Bentuk hadiah-hadiah kecil berikut yang mendapatkan pilihan nasabah adalah alat tulis (24%), uang tunai (13%), buku atau buku harian (11%), telepon genggam (4%), barang-barang elektronik (4%), alat-alat rumah tangga (3%), tas (2%), jam dinding (2%), dan payung (2%).
Format hadiah berikut yang cukup banyak disukai nasabah, walaupun tidak seperti hadiah langsung, adalah penambahan saldo (19%) dan bentuk undian dengan hadiah yang relatif besar (17%). Bentuk hadiah yang berbeda sama sekali adalah undian itu. Undian tentu menciptakan harapan untuk mendapatkan sesuatu yang besar dan menciptakan excitement ketika diumumkan pemenangnya. Hasil survei ini menunjukkan, nasabah dari Makassar, Jakarta, dan Surabaya paling menyukai tipe hadiah ini (20%-24%) ketimbang nasabah-nasabah dari kota-kota lain, khususnya nasabah dari Bandung dan Semarang (5%-6%) yang menunjukkan pilihan paling apatis terhadap hadiah undian.
Barang-barang undian yang paling disukai nasabah ternyata adalah rumah (50%) dan sebagian memilih apartemen (7%). Bentuk hadiah undian berikutnya adalah mobil (41%) disusul sarana transportasi lain yang lebih murah, yaitu sepeda motor (13%). Di bawah ini nasabah memilih barang-barang elektronik. Sebaliknya, sedikit sekali yang memilih bentuk undian berhadiah tunai (cash). Bisa jadi ini bentuk irasionalitas nasabah, yang memilih barang-barang tertentu dibandingkan dengan dana tunai yang bisa mereka belanjakan segala seuatu sesuai dengan kebutuhan mereka, walaupun ada kemungkinan mereka sudah memiliki barang-barang yang sama.
Bentuk hadiah yang paling tidak popular adalah point reward (2%), jauh dibandingkan dengan pilihan-pilihan lain, bahkan dibandingkan dengan hadiah asuransi jiwa gratis (8%). Bentuk hadiah seperti ini tidak diminati di mana-mana dan di antara semua segmen nasabah. Nasabah tampaknya tidak sabar menunggu akumulasi poin mereka untuk mengklaim hadiah yang diiming-imingkan.
Tampaknya hadiah sudah menjadi salah satu strategi untuk mengakuisisi dana, nasabah baru, maupun membangun loyalitas nasabah. Dengan hadiah, nasabah merasa diapresiasi, meningkatkan bisnis dengan bank, dan bahkan menjadi pembela bank ketika bank mengalami masalah.
Pemberian hadiah memang tidak menjadi alasan yang penting bagi nasabah untuk membuka rekening di suatu bank. Dewasa ini nasabah mass market tampak concerned dengan masalah biaya dan memilih bank yang menawarkan tanpa biaya administrasi atau biaya administrasinya rendah (22%), di samping akses yang mudah melalui jaringan automatic teller machine (ATM) yang luas (19%) dan jumlah cabang yang banyak (8%). Faktor keamanan bank masih cukup penting dan menjadi pertimbangan cukup banyak nasabah ketika memilih suatu bank (18%).
Walaupun tidak menonjol, pemberian hadiah ternyata menarik paling tidak 1% nasabah untuk membuka suatu rekening baru. Di luar itu penawaran hadiah tampaknya tetap menjadi pertimbangan bagi lebih banyak nasabah untuk berhubungan dengan suatu bank. Seperti diungkapkan 9% nasabah yang menyebutkan pemberian hadiah sebagai salah satu dari tiga faktor penting bagi mereka memilih suatu bank. Masalahnya, kalau kompetitor memberikan hadiah, tanpa strategi tandingan, apa berani kita tidak menawarkan hadiah? (*)
Penulis adalah Presiden Direktur Marketing Research Indonesia (MRI).
Sumber : www.infobanknews.com
6 Cara Agar BPR Tidak Terlikuidasi
Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tentang sebab matinya BPR karena ulah pengurusnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang bergelut di bisnis BPR.
Persoalan bukan semata-mata urusan matematika angka, tapi menyangkut perilaku pengurus dan karyawannya. Nah, agar Anda bisa masuk jajaran BPR terbaik versi Infobank tahun mendatang, enam hal harus dipenuhi, yaitu (1) meningkatkan modal, (2) memperbaiki kualitas aktiva produktif, (3) menjaga likuiditas, (4) mempertahankan tingkat laba dengan margin yang tetap tebal, (5) terus menjaga efisiensi dan (6) yang terus menjaga perliku pengurusnya. Soal manajemen perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi lima hal yang pertama.
Sulit. Namun, tetap mungkin dapat diraih. Di tengah rimba persaingan yang mahadahsyat di pasar BPR, kalangan BPR harus terus menjaga pertahanan yang lebih kokoh. Persaingan tidak bisa dihindari. Nah, untuk menjaga pertahanan yang baik, dibutuhkan energi untuk persiapan yang memadai.
Situasi makro yang berat tentu sewaktu-waktu akan melilit BPR. Namun, ada tiga resep agar tetap bisa bertahan di masa-masa satu tahun mendatang. Pertama, mempertahankan likuiditas sehingga jika ada pengetatan mendadak masih tetap bisa pertahan. Setiap keseimbangan baru selalu diikuti dengan keseimbangan likuiditas yang baru juga. Tidak ada kata menyerah dalam mencari dana pihak ketiga (DPK), khususnya dana murah.
Kedua, menjaga kualitas kredit. Usahakan jangan sampai terjadi pembiaran NPL yang tak terkontrol. Namun, biasanya, NPL ini terjadi ketika pemberian kredit tidak memakai pendekatan kehati-hatian. Ekspansi kredit berlebihan tanpa memperhatikan aspek kehati-hatian. Jadi, untuk bisa menjadi yang terbaik di masa mendatang tergantung dua hal, yaitu menjaga likuiditas dan memperbaiki terus kualitas kredit.
Ketiga, jangan terlalu bernafsu di sini diartikan jangan menggunakan duit bank untuk ekspansi ke sektor riil yang masih satu grup. Prinsipnya sangat tabu menggunakan uang bank untuk keperluan yang diluar norma perbankan. Apalagi, dengan membikin usaha yang tidak dikuasai, selain menempatkan bank di ujung tanduk, maka bukan tak mungkin akan berurusan dengan pihak berwajib.
Jadi, jangan menganggap uang bank milik nenek moyangnya dan rusaknya BPR akan merusak BPR-BPR yang kondisinya lebih baik dan dikelola dengan profesional. (*)
Sumber : www.infobanknews.com
Sabtu, 06 Agustus 2011
UKM Centre FEUI: UMKM Tidak Permasalahkan Suku Bunga Bank
Jakarta–UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyatakan, bahwa pelaku usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak terlalu memermasalahkan suku bunga yang diberikan perbankan, selama mereka bisa memeroleh kucuran kredit dengan cepat.
“Suku bunga nggak terlalu penting bagi UMKM. Terutama kalau UMKM-nya perdagangan dan jasa, itu kan return of investment mereka tinggi, jadi maunya yang cepat saja,” tutur Direktur Utaman UKM Center FEUI Nining I. Soesilo, saat ditemui wartawan di Jakarta, Kamis, 4 Agustus 2011.
Jangkauan perbankan terhadap sektor UMKM sendiri masih jauh dari cukup. Ia mengaku, pernah menghitung dari sekian banyak kucuran kredit perbankan ke sektor UMKM sesuai data bank sentral, bila paling tidak dibagi Rp200 juta, dengan pertimbangan kucuran kredit kecil sekitar itu, diperoleh hasil sangat memperihatinkan mengingat ada sekitar 50 juta UMKM di Indonesia.
“90% UMKM di Jakarta nggak bisa masuk bank. Itu kalau dibagi secara kasar masing-masing kredit Rp200 juta, itu kan masih termasuk kecil, itu hasilnya nggak sampai sepersepuluh UMKM di Jakarta,” tandasnya.
Akibat kondisi tersebut, kakak Kandung Sri Mulyani ini mengungkapkan, para penggiat UMKM akan mengambil pembiayaan dari siapapun yang memberikan kemudahan tersebut. Tidak terlepas Lembaga Keuangan Mikro, Baitul Maal Wal Tamil (BMT), Koperasi bahkan rentenir sekalipun.
“Bagaimana dengan bank? Tidak mungkin. Karena bank banyak memberikan syarat apalagi soal agunan tersebut. Sudah pasti di daerah itu enggan menggunakan jasa bank,” pungkasnya. (*)
Sumber : www.infobanknews.com
Kamis, 05 Mei 2011
Mahalnya Sertifikat Halal Para Bankir
Ingat, hancurnya bank-bank di masa lalu karena ulah bankir para bankir yang kurang memahami risiko dan tidak mempunyai kompetensi dalam mengelola bank yang sering dipenuhi risiko: risiko pasar, risiko operasional, risiko reputasi, dan beberapa risiko lainnya. Eko B. Supriyanto
Para bankir wajib punya sertifikat halal yang berlabel sertifikat menajemen risiko (risk management). Ada lima level yang harus diikuti seorang bankir dan ketentuan ini berlaku hingga jenjang direksi. Jadi, bankir sudah seperti malaikat saja, selain harus lolos uji kelayakan dan kepatutan (fit & proper test), ia juga harus punya sertifikat manajemen risiko. Semua ini ditujukan agar para bankir mampu meminimalisasi risiko yang datang secara mendadak, kendati ongkosnya terlalu besar bagi bank-bank.
Semua tahu bahwa industri perbankan merupakan industri yang sarat dengan risiko. Selain mengelola uang masyarakat, bank juga mempunyai tugas menyalurkan kredit. Pendeknya, kegiatan bank, baik dari sisi aktiva maupun sisi pasiva, mengandung berbagai jenis risiko.
Nah, karena banyaknya risiko—seperti risiko pasar, risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko reputasi serta empat risiko lainnya—diperlukan seorang bankir yang ahli dan mampu dalam memandang dan mengantisipasi risiko. Semua itu dimaksudkan untuk menjaga agar banknya tidak jatuh atau minimal dapat mengurangi kerugian yang timbul. Semua pejabat bank, tidak terkecuali, wajib memiliki sertifikasi manajemen risiko.
Menurut Bank Indonesia (BI), sertifikasi mamajemen risiko itu penting untuk menjamin kualitas dan kompetensi yang sama bagi para manajer risiko (risk manager) yang ada pada setiap bank. Lebih jauh, dengan sertifikasi manajemen risiko ini, diharapkan semua manajer risiko yang bekerja pada industri perbankan memiliki persyaratan minimum dan standar kualitas yang sama, baik dari sisi keahlian, kompetensi, maupun pengetahuan tentang manajemen risiko.
Bisa jadi, sertifikasi untuk manajer risiko yang bekerja pada industri perbankan Indonesia bukan lagi dianggap sebagai suatu kewajiban, melainkan sudah dianggap sebagai suatu kebutuhan. Bahkan, harus ada pada setiap orang yang mengemban tugas sebagai manajer risiko pada bank. Ibarat seorang pengacara harus memiliki izin praktik pengacara. Hal yang sama bagi profesi akuntan. Untuk itulah, BI memasukkannya dalam visi Arsitektur Perbankan Indonesia (API).
Perlu diketahui, ujian sertifikasi pertama yang diselanggarakan di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta, bukan sepenuhnya dilakukan oleh BI, tapi semacam disubkontrakan ke Global Association of Risk Professional bersama Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR), sebuah lembaga bentukan Federasi Perbankan Indonesia dan Indonesia Risk Profesional Association (IRPA).
Tidaklah penting siapa yang menyelenggarakan ujian yang diperkirakan sampai dengan lima jenjang ini. Hanya masalahnya, kualitas ujian, seperti dituturkan para bankir, tidak menyentuh substansi. Materi soal yang berbentuk pilihan ganda (multiple choice) ini lebih banyak bersifat dasar. Contohnya, ada berapa jenis risiko di perbankan, tahun berapa PBI tentang manajemen risiko.
Pertanyaannya, apakah dengan materi ujian seperti itu seorang bankir bisa langsung memahami aspek risiko? Tentu tidak karena memang ujian itu baru tingkat dasar bagi supervisi manajer risiko atau stafnya. Termasuk pula pemimpin cabang, pemimpin divisi, dan wakil pemimpin divisi. Bahkan, kualitas soal tidak sebanding dari materi yang diberikan, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.
Tidak hanya itu. Ujian sertifikasi manajemen risiko ini dinilai oleh sebagian besar bankir sesuatu yang mahal harganya. Hampir seluruh bank mengirimkan orangnya di ujian pertama yang melibatkan 1.700 bankir. Peristiwa ini termasuk dalam rekor dunia karena dalam peradaban bankir sepanjang masa tidak pernah ada ujian sebanyak ini, kecuali di Indonesia.
Wah, berapa banyak uang yang mengalir ke kantong panitia. Kita kalkulasi saja. Semua peserta yang mengikuti ujian tersebut dikenai biaya. Biaya ujian besarnya Rp3,5 juta, lalu biaya pelatihan lebih kurang sebesar US$600. Kalau dibulatkan, jumlahnya mencapai sekitar Rp10 juta per peserta.
Jika jumlah peserta ujian sebanyak 1.700, maka saku penyelenggara akan terisi fulus sekitar Rp17 miliar. Jadi, banyak sekali biaya yang keluar. Itu belum termasuk biaya peserta dari luar kota yang akomodasinya harus ditanggung bank, baik uang saku maupun biaya transportasi.
Anda bisa menghitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk mencetak 50.000 bankir. Untuk biaya pelatihan dan pendaftaran saja mencapai Rp500 miliar. Apalagi, sertifikasi manajemen risiko ini tidak hanya satu level, tapi ada lima level yang harus diikuti bankir sampai dengan jenjang direksi.
Tentu tidak semua bankir mengikuti level yang ada. Oke. Taruhlah rata-rata setiap bankir mengikuti tiga level. Untuk ini saja, biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai triliunan rupiah. Ini juga belum termasuk biaya akomodasi dan tranportasi dari bank-bank yang mempunyai cabang di daerah-daerah.
Jadi, inikah bisnis besar bule-bule yang ditelan oleh BI? Tanpa bermaksud mengusik halal tidaknya sertifikasi manajemen risiko, yang jelas, sejumlah bankir sedikit mengeluhkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Soalnya, bukan sekadar biaya pendaftaran dan biaya ujian, melainkan plus akomodasi bagi karyawan yang dari daerah. Sepertinya, bank-bank besar dalam kurun waktu lima tahun ke depan harus menganggarkan biaya sertifikasi bagi karyawannya hingga ratusan miliar rupiah.
Jelas, masalah sertifikasi manajemen risiko ini bukan masalah kecil. Bahkan, bisik-bisik yang terdengar dari kalangan perbankan, biaya untuk sertifikasi ini mencapai 60% sampai dengan 70% dari biaya pendidikan yang harus dikeluarkan bank setiap tahunnya.
Jika hal ini benar, maka biaya sertifikasi manajemen risiko perlu diturunkan agar beban yang harus ditangggung bank tidak terlalu berat. Sebab, di tengah konsolidasi perbankan, tidaklah mudah bank mempertahankan marginnya juga kelancaran kreditnya. Semua tahu, mencari laba sesen saja sangat sulit di zaman sekarang ini.
Harus diakui, beban biaya yang harus ditanggung bank-bank memang cukup berat. Tapi, itulah ongkos yang harus dibayar kalau memang bankir-bankir kita ingin mahir dan paham terhadap risiko yang menghadang. Para bankir harus sadar, risiko besar telah di depan mata.
Ingat, hancurnya bank-bank di masa lalu karena ulah bankir para bankir yang kurang memahami risiko dan tidak mempunyai kompetensi dalam mengelola bank yang sering dipenuhi risiko: risiko pasar, risiko operasional, risiko reputasi, dan beberapa risiko lainnya.
Tapi, apakah dengan selembar sertifikat, lantas bank-bank bebas dari kegagalan? Entahlah. Yang jelas, banyak peserta yang meragukan keampuhan sertifikasi manajemen risiko, yang harganya mahal ini. Apalagi kalau melihat persoalan yang dihadapi para bankir, yang tidak semua bisa diselesaikan dengan cara multiple choice.
Penilaian itu hanyalah pendapat yang belum tentu benar. Semua tergantung dari bankir generasi multiple choice, seperti soal-soal dalam ujian sertifikasi manajemen risiko.
Perbankan kita telah memulai sesuatu yang baik dengan menyelenggarakan sertifikasi halal manajemen risiko. Mereka pun diharapkan akan segera tahu seluk-beluk risiko. Tapi, kenapa harganya mahal, padahal hasilnya belum tentu semahal harganya.
Alangkah bijaknya bila biaya sertifikasi manajemen risiko ini ditekan dan tidak menjadi beban baru bagi perbankan yang kini ditodong dengan konsolidasi dan kredit macet serta penurunan laba akibat badai suku bunga yang tinggi. (*)
Sumber : www.infobanknews.com
Menangkan Persaingan dengan Competitor Monitoring
Bank membutuhkan competitor monitoring agar bisa survive. Competitor monitoring mestinya dilakukan secara terencana, terstruktur, sistematis, komprehensif, dan teratur. Rahayu Widayanti
Competitor monitoring (CM) merupakan kegiatan suatu perusahaan untuk memantau gerak langkah pesaing bagi kepentingannya sendiri. Yang dimonitor bisa aspek apa saja dari perusahaan pesaing. Misalnya, perkembangan produk, kegiatan dan strategi pemasaran maupun promosi, jaringan, dan kerja sama dengan pihak ketiga.
Competitor monitoring merupakan bagian dari competitive intelligence. Yang terakhir ini merupakan aktivitas mengumpulkan dan menganalisis segala macam informasi yang menyebabkan perubahan pada lanskap (sektor) bisnis di masa mendatang.
Jadi, tidak hanya gerak pesaing yang sudah hadir, tapi juga kemungkinan adanya pesaing baru, perubahan peraturan, perubahan produk secara mendasar—misalnya, ada substitute product dan perubahan teknologi—perubahan kondisi politik, sosial dan budaya, perubahan life style, dan sebagainya.
Intinya, berbagai macam faktor, baik dari dalam industri tersebut maupun dari luar, yang memengaruhi atau menyebabkan perubahan di sektor industri tersebut. Perubahan tersebut dapat menyebabkan peta persaingan berubah.
Semua pelaku bisnis atau perusahaan sesungguhnya membutuhkan sistem competitive intelligence. Dengan memantau para pesaing, perusahaan dapat terus mengetahui posisinya di tengah arena kompetisi. Karena itu, bisa dikatakan, perusahaan yang mempunyai sistem competitor monitoring berarti melengkapi dirinya dengan senjata ampuh untuk mempertahankan diri maupun menyerang pesaingnya di tengah medan kompetisi.
Competitor monitoring belum banyak dilakukan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Namun, yang jelas, makin hari, makin banyak pelaku bisnis yang melakukannya. Pelaku bisnis di sektor bisnis yang gesekan kompetisinya kuat atau sektor yang dinamikanya tinggi lebih merasakan kebutuhan akan competitor monitoring dibandingkan dengan sektor bisnis yang kompetisinya lebih longgar.
Bagi perbankan, semula, competitor monitoring dirasakan kurang penting. Kalaupun perlu, hanya sekali-kali saja dilakukan. Biasanya, jika ada produk atau divisi baru, revitalisasi produk lama, atau ada rencana strategis baru yang dicanangkan pengelola bank. Jadi, tidak ada kebutuhan competitor monitoring yang kontinu, sistematis, dan terstruktur.
Lagi pula, jika sebuah bank ingin mengetahui strategi bank lain, ia tidak perlu susah payah mencari tahu, mengamati, dan menganalisis keberhasilan bank pesaing. Itu cukup dilakukan dengan cara yang mudah dan sederhana, yakni membajak eksekutif bank pesaingnya itu.
Namun, belakangan ini, kalangan perbankan makin merasakan kebutuhan competitor monitoring. Bukan aktivitas competitor monitoring ad-hoc yang hanya untuk keperluan sesaat, tapi kegiatan competitor monitoring yang terencana, terstruktur, sistematis, dan kontinu. Dan, tentu saja, cepat.
Soal kecepatan ini, misalnya, sedemikian tingginya dinamika perbankan masa kini, sehingga seorang bankir menyatakan bahwa dia membutuhkan laporan competitor monitoring tiap bulan. Jika lebih dari satu bulan, laporannya tidak up-to-date lagi alias terlambat.
Salah satu faktor penting yang menyebabkan makin kuatnya kebutuhan akan competitor monitoring di kalangan perbankan adalah kondisi bisnis perbankan sendiri yang mengalami perubahan besar. Salah satu penyebabnya, makin banyaknya perbankan asing yang masuk ke pasar Indonesia.
Dibandingkan dengan pemain lokal, bank asing cenderung lebih agresif dan kreatif, baik dalam mengemas produk maupun dalam menyusun strategi marketing dan bisnis. Sementara itu, operasional mereka lebih efisien, sehingga mempunyai competitive advantage dibandingkan dengan perbankan Indonesia. Maka, dengan kehadiran mereka, persaingan bisnis perbankan di Tanah Air kini makin ketat dibandingkan dengan masa sebelumnya.
Terlebih, di consumer banking, persaingan dirasakan makin tajam karena produk-produknya memang lebih beragam dibandingkan dengan produk corporate banking. Selain itu, sesuai dengan target pasarnya, yakni individual customer, consumer banking memerlukan strategi pemasaran yang lebih kreatif serta aktivitas pemasaran yang lebih tinggi dan dinamis dibandingkan dengan corporate banking.
Faktor penting lain yang membuat kondisi perbankan berubah secara signifikan adalah teknologi. Kemajuan teknologi membawa perbankan pada kemungkinan baru yang dahulu tidak ada. Misalnya, dulu, hanya ada kantor cabang dan automatic teller machine (ATM). Kini, muncul channel lain, seperti phone banking dan internet banking.
Dulu, ATM hanya melayani informasi dasar, seperti informasi saldo dan ambil tunai. Kini, ATM juga melayani transaksi pembayaran (listrik, handphone, televisi kabel, kartu kredit, dan sebagainya) maupun pembelian (belanja barang-barang kebutuhan sehari-hari di pasar modern, reksa dana, voucher pulsa telepon seluler, dan tiket kereta api).
Kehadiran channel, di mana bank berhubungan dengan nasabahnya, yang baru ini membuat lanskap persaingan berubah. Bank yang diunggulkan bukan lagi bank yang mempunyai kantor cabang paling banyak. Semula, bank berusaha membangun jaringan cabang bank di seluruh pelosok Indonesia, tapi kemudian berubah menjadi persaingan penyebaran ATM karena ATM bisa mewakili kantor cabang—dengan keterbatasan tertentu.
Ketika teknologi makin maju, bank pun tidak lagi bersaing dalam jumlah kantor cabang dan tidak juga dalam jumlah ATM—karena dapat disiasati dengan menumpang ATM bank lain, tapi berlomba menghadirkan layanan phone atau short message services (SMS) banking dan internet banking.
Channel distribution baru ini juga mengubah siapa yang menjadi pesaing bagi suatu bank. Bank yang mempunyai kantor cabang atau ATM banyak, misalnya, kini harus menerima munculnya pesaing baru, yaitu bank yang mempunyai layanan SMS banking dan internet banking.
Teknologi juga membuat jangkauan elektronis perbankan makin merambah jauh. Dulu, non-conventional channel hanya bisa digunakan untuk transfer antar-in-house account (rekening di bank yang sama). Kini, nasabah juga bisa melakukan transfer ke rekening di bank lain.
Cakupan geografis transaksinya juga bertambah luas melewati batas negara. Nasabah perbankan di Indonesia sebentar lagi dapat menikmati ATM yang digunakan untuk bertransaksi—selain di Indonesia—di negara lain. Dan, mereka, bank-bank asing di negara asing, akan menjadi pesaing langsung bank-bank di Indonesia.
Persaingan perbankan saat ini sampai pada situasi yang makin ketat yang belum pernah terjadi sebelumnya: bank scale yang makin besar, layanan bank yang makin mobile, serta pesaing maupun nasabah asing atau nasabah lokal dengan international operational yang makin banyak dan luas. Di masa depan, para bankir harus bekerja lebih keras lagi menghadapi persaingan yang makin sengit.
Bank-bank besar di Singapura, misalnya, tengah gencar berekspansi ke luar negeri karena pasar dalam negerinya mulai dirasakan jenuh. Bagi mereka, lebih mudah masuk ke bank yang sudah ada—apalagi bank yang kuat, sehat, dan bernasabah banyak—daripada membuka kantor cabang sendiri yang berarti melakukan bisnis dari nol. Dengan mengakuisisi bank yang sudah berdiri dan mapan, mereka tidak perlu repot-repot membangun merek, jaringan, nasabah, dan sebagainya.
Teknologi yang makin maju membuka kemungkinan baru di masa datang, baik produk dan jasa, layanan, jangkauan, maupun pemasaran, yang membuat peta persaingan juga berubah. Dan, semestinya, perubahan tersebut diperhitungkan pada setiap pengambilan keputusan bisnis yang sifatnya strategis oleh para bankir.
Bukan hanya bank besar yang merasakan kebutuhan competitor monitoring untuk meningkatkan daya kompetisinya. Bank kelas menengah pun merasakan perlunya kegiatan competitor monitoring. Pasalnya, persaingan ketat ini dirasakan bank besar dan menengah. Ini, antara lain, karena bank asing tak hanya masuk ke bank swasta besar, seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Danamon, dan PermataBank, seperti Bank CIMB Niaga, Bank Buana, dan Bank OCBC NISP.
Dengan melakukan competitor monitoring secara kontinu, bank dapat melakukan benchmarking terhadap para pesaingnya. Benchmarking bisa dilakukan pada produk, layanan, distribution channel, strategi pemasaran dan promosi, jaringan, kerja sama dengan pihak ketiga, dan lain sebagainya. Jika ingin melibas pesaingnya, bank dengan tepat tahu arah mana yang dituju dan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.
Selain berusaha mempertahankan keunggulan atau posisinya di percaturan perbankan Indonesia, bank juga membutuhkan competitor monitoring agar bisa survive. Dengan selalu mengikuti kiprah para pesaing, bank dapat dengan cepat melakukan perubahan agar tidak dilindas bank-bank lain yang lebih agresif menggarap pasar.
Aktivitas competitor monitoring tak cukup hanya dilakukan sambil lalu oleh masing-masing divisi bank untuk kepentingan masing-masing produknya, tapi selayaknya dilakukan unit khusus competitor monitoring secara terencana, terstruktur, sistematis, komprehensif, dan teratur.
Hasilnya juga tentu lebih berkualitas dan bernilai tinggi, sehingga berdaya guna lebih besar bagi bank tersebut untuk berkompetisi. Dengan kata lain, sistem competitor monitoring adalah senjata ampuh bagi pelaku bisnis perbankan untuk memenangkan persaingan. (*)
Penulis bekerja pada sebuah konsultan di Jakarta dan berpengalaman mengerjakan berbagai proyek perbankan.
Sumber : www.infobanknews.com
Rabu, 04 Mei 2011
Memuja Manajemen, Mengindari Tipuan
Dari lima unsur CAMEL, manajemen menjadi faktor terpenting dalam menganalisis perbankan. Sayangnya, ia tidak dapat diukur secara kuantitatif. Haruskah analis perbankan kembali tertipu? Mirza Adityaswara
Dulu, sebelum krisis, pekerjaan analis perbankan (banking analyst) cukup mudah. Sebab, yang dianalisis dan ditanyakan kepada manajemen bank hanyalah angka-angka pertumbuhan kredit, pertumbuhan dana pihak ketiga, efisiensi biaya, margin bunga, dan besarnya laba. Dari lima unsur CAMEL (capital, asset, management, earning, and liquidity), mungkin sebagian besar analis hampir tidak pernah secara “sadar” memasukkan unsur manajemen sebagai unsur terpenting dalam penilaian rating suatu bank.
Karena keadaan pada waktu itu semua berjalan sedemikian baiknya, para analis—termasuk penulis sendiri—terlena dengan angka-angka fantastis pertumbuhan kredit dan laba perbankan Indonesia. Tentu saja, keadaan terlena ini didorong pula oleh pujian-pujian investor, kreditor asing, dan lembaga multilateral terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ternyata, apa yang terlihat dipermukaan “sangat baik” pada kenyataannya “sangat keropos”. Kemudian, berbondong-bondonglah para analis, kreditor, dan lembaga multilateral menceritakan kebobrokan perbankan Indonesia, maka hancurlah perbankan kita pada 1998.
Keadaan di pasar valuta asing pada waktu itu makin tidak terkendali. Sebab, gelombang pembelian valas didukung oleh banjirnya kredit likuiditas dari bank sentral—sebagai konsekuensi penjaminan deposito). Dan, keadaan itu didukung sistem devisa kita yang sedemikian bebas. Kita masih ingat reaksi di pasar modal juga sangat negatif karena memang sesuai dengan sifat pasar modal yang selalu over shoot.
Belajar dari kesalahan itu, sudah seharusnya para banking analyst di Indonesia sangat berhati-hati dalam memberikan rekomendasi “beli” untuk saham bank di Indonesia–mudah-mudahan, pendapat ini mewakili pendapat para banking analyst di Indonesia.
Dari lima unsur CAMEL, sekarang, unsur M (manajemen) menjadi unsur terpenting dalam analisis. Kalau manajemen suatu bank dari awal sudah tidak bisa dipercaya, berbicara bombastis, atau selalu menghindar bertemu analis, sebaiknya bank tersebut dihindari dan tanpa ragu-ragu, analis sebaiknya memberikan rekomendasi “sell/a void” (jual/hindari).
Apalagi jika bank tesebut dalam situasi krisis seperti sekarang pertumbuhan kreditnya masih gila-gilaan. Lebih bahaya lagi bila bank tersebut masih dikendalikan suatu keluarga atau satu pemilik. Bank-bank seperti ini kemungkinan besar menyimpan bom waktu.
Faktor keterbukaan manajemen dikategorikan sebagai good corporate governance. Sayangnya, faktor manajemen tidak bisa diukur secara kuantitatif. Manajemen bank sebaiknya secara sukarela menjelaskan kebijakan kredit dan pengembangan asetnya.
Terus terang, setelah tertipu dengan kinerja perbankan sebelum krisis, sulit sekali bagi analis untuk percaya bahwa credit culture bank-bank di Indonesia memang sekarang sudah membaik. Masih sulit bagi para analis untuk yakin bahwa sistem pemberian dan pengawasan kredit, termasuk sistem audit, saat ini sudah lebih baik ketimbang sebelum krisis.
Kualitas laporan audit juga menjadi faktor penting. Sayangnya, tidak ada sanksi bagi para auditor yang sebelum krisis memberikan kualifikasi “wajar tanpa syarat” kepada bank-bank yang ternyata sekarang terbukti melakukan pelanggaran legal lending limit secara gila-gilaan. Sebaiknya, para analis langsung memberikan tanda tanya untuk laporan audit bank yang dihasilkan kantor akuntan yang kredibilitasnya diragukan.
Dari sisi keterbukaan, kualitas laporan publikasi memang makin lama makin baik. Dalam laporan keuangan publikasi, sekarang, kita bisa melihat penggolongan kualitas aktiva produktif dan rekening administratif. Tapi, yang masih perlu diyakinkan kepada analis adalah angka-angka yang dilaporkan memang benar adanya.
Setelah yakin akan faktor manajemen/corporate governance, barulah analis menyoroti empat unsur CAMEL yang lain, yakni capital, asset, earning, and liquidity.
Karena situasi perbankan Indonesia saat ini masih menghadapi situasi yang berat, malah kemungkinan memburuk, faktor kualitas aktiva produktif menjadi sangat penting. Ada tiga rasio kualitas aktiva yang dilihat analis. Satu, rasio aset bermasalah terhadap aset total. Dua, rasio pencadangan terhadap aset bermasalah (makin tinggi, makin baik). Tiga, rasio agunan yang diambil alih terhadap aset total.
Rasio terakhir itu penting diamati. Sebab, bisa saja, kredit bermasalah mengecil karena penghapusbukuan, tapi agunan yang diambil alih bank masih menyangkut terus di neraca bank. Sebab, bank segan menjual agunan tersebut. Bank takut harga jualnya jauh di bawah harga pengambilalihan.
Sementara itu, makin tinggi kredit bermasalah dan makin buruk situasi ekonomi, maka makin tinggi pencadangan yang diperlukan bank. Dalam situasi yang buruk seperti saat ini, tingkat pencadangan/coverage 40% terhadap kredit bermasalah adalah sangat kurang, walaupun dulu sebelum krisis tingkat coverage 40% mungkin dianggap cukup. BCA adalah salah satu contoh bank yang memiliki tingkat coverage tinggi (120%).
Modal bank selalu menjadi unsur penting, apalagi dalam situasi ekonomi yang buruk. Untuk perbankan Indonesia, terutama bank-bank rekap, capital adequacy ratio (CAR) saja tidak cukup. Sebab, CAR bank-bank rekap sudah terdistorsi oleh besarnya proporsi obligasi rekap dalam neraca bank-bank tersebut. Rasio CAR harus dilengkapi dengan rasio modal terhadap total aset.
Bagi investor, rasio laba adalah sangat penting, terutama return on equity (ROE). Bagi investor, percuma saja suatu bank memiliki CAR tinggi, tapi ROE-nya rendah. Sebab, hal itu mencerminkan bahwa bank tersebut over capitalized. Artinya, bank tersebut tidak dapat memanfaatkan modalnya dengan baik.
Untuk Indonesia, investor asing menuntut ROE yang tinggi, yakni harus lebih tinggi ketimbang bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ditambah dengan hedging cost. Artinya, investor asing menuntut ROE sekitar 27%, suatu hal yang hampir mustahil bisa ditemukan di perbankan.
Bagi perusahaan credit rating rasio, mungkin, rasio return on asset (ROA) lebih penting daripada ROE. Secara kasar bisa dikatakan bahwa suatu bank dengan ROA lebih dari 2% sudah merupakan prestasi sangat baik.
Laba juga ditentukan oleh efisiensi biaya operasiona. Analis menggunakan cost to income rasio, yang penghitungannya agak berbeda dengan rasio yang dipakai BI. Patokan untuk cost to income ratio perbankan Indonesia adalah sekitar 50%. Agar bank-bank itu mampu menurunkan rasio biaya tersebut ke bawah 50%, harus ada usaha ekstrakeras untuk mengurangi biaya dan meningkatkan pendapatan. Terus terang, saya tidak melihat ada keberanian bank-bank rekap melakukan langkah drastis seperti itu.
Seberapa penting rasio likuiditas saat ini? Untuk bank-bank rekap, loan to deposit ratio (LDR) tidak bisa mencerminkan tingkat likuiditas bank tersebut. Maklum, sebagian besar kredit sudah dipindahkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan digantikan dengan obligasi rekap.
Artinya, untuk bank-bank rekap, bila mau menghitung LDR, kita harus memasukkan komponen obligasi rekap ke dalam pembilangnya (kredit ditambah obligasi rekap dibagi dengan dana pihak ketiga). Bila obligasi rekap kita masukkan, akan terlihat bahwa LDR bank-bank rekap tidak rendah, tapi sudah mencapai 80%-100%.
Saya lebih senang menggunakan rasio net penempatan jangka pendek terhadap dana pihak ketiga untuk melihat tingkat likuiditas suatu bank. Tapi satu hal harus disadari bahwa sebaik-baiknya suatu bank menjaga tingkat likuiditasnya, akan tetap hancur bila bank itu dilanda rumor dan rush. Karena itu, yang terpenting bagi bank adalah menjaga kepercayaan para deposan. (*)
Penulis adalah pengamat perbankan.
Sumber : www.infobanknews.com